Hai teman-teman,, kali ini saya membagikan sebuah cerpen yang sangat sederhana...
Semoga bermanfaat..
Bagi pemula seperti saya yang ingin menulis cerpen, saya mencoba megambil konflik yang sederhana. Tidak langsung membawa konflik yang berat, nanti yang ada malah gak selesai-selesai cerpennya, karena mikirin penyelesaian untuk konfliknya, hehe..
Terus, tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan dicoret-coret dulu,, terus aja nulis.
Jangan bandingkan karya kita -yang masih pemula ini- sama karya-karya orang yang udah mahir dan terbiasa menulis, nanti jatuhnya malah gak pede sama tulisan kita. nanti kita juga bisa mahir kalo udah terbiasa nulis kok.
Kayaknya kebanyakan prolog ya, hehe...
Mu’jizat
Menyenangkan rasanya pergi ke
sekolah bersama teman-teman, bercanda bersama, berbagi pengetahuan dengan
guru-guru di kelas, belajar kelompok, dan terkadang menjahili teman yang
tertidur di kelas. Itulah yang dirasakan Hasby selama 9 tahun ke belakang.
Hasby, itulah namanya, remaja berusia 15 tahun yang setiap pagi hanya bisa
melamun di dalam bilik kamarnya, memandang teman-temannya bersekolah lewat
celah kecil di dalam biliknya.
“Nak, ayo sarapan dulu”, suara
ibunyalah yang selalu menginterupsi kegiatan setiap paginya itu. Ibunya sangat
tahu apa yang difikirkan oleh Hasby. Hasby ingin kembali ke sekolah. Ya, itulah
alasan Hasby selalu memandang iri teman-temannya yang pergi sekolah setiap pagi
tanpa dirinya.
“Ya, Bu”. Hasby juga sangat tahu, ibunya
merasa sedih melihatnya selalu melamun seperti itu. Sejujurnya, Hasby merasa
bersalah sudah membuat ibunya sedih, namun Hasby masih belum bisa menghilangkan
kebiasaannya itu.
Hasby pernah seperti mereka,
merasakan bangku sekolah. Setidaknya, ia menyimpan ijazah SD dan SMP di dalam
lemari kayu kecil buatan ayahnya yang sudah usang dan sedikit lapuk. Hasby
hanya ingin melanjutkan sekolah, mendapat pengetahuan yang lebih banyak, supaya
bisa menggapai cita-citanya dan membahagiakan orangtuanya. Namun, Hasby
menyadari, hanya untuk makan sehari-tiga kalipun sangat sulit untuknya.
Hasby tinggal di sebuah rumah kecil
yang terbuat dari bilik bambu. Hanya ada 4 ruangan kecil di dalamnya, 2 kamar
tidur, dapur, dan ruang kosong yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu.
Tidak ada alat elektronik di rumahnya, bahkan listrik sekalipun. Untuk memasak,
mereka masih menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sebenarnya, banyak tetangga
yang mau membantunya dengan cuma-cuma, itu karena keluarga Hasby sangat
disenangi karena kebaikan hati dan keramahannya. Namun, Hasby dan orangtuanya
selalu menolak penawaran dan pemberian apapun dari tetangganya. Bukan apa,
hanya saja Hasby dan orangtuanya takut akan terus bergantung kepada mereka.
Hasby tidak pernah mengeluhkan
hidupnya pada siapapun. Meskipun miskin, keluarganya hidup rukun. Hasby
memiliki tubuh yang sehat dan kuat walaupun kurus. Tubuhnya temasuk tinggi
untuk remaja seusianya, memiliki warna kulit yang gelap dan kasar karena sering
melakukan pekerjaan yang berat, juga rambut yang kusam dan kemerah-merahan
akibat terlalu sering terkena paparan sinar matahari.
Hasby anak yang cerdas dan
berprestasi di sekolahnya, itulah salah satu alasannya sangat ingin kembali
sekolah. Ia rindu namanya disebut paling awal ketika pembagian rapor tiap
tahunnya, karena menjadi juara kelas. Ia ingin kembali memenangkan
olimpiade-olimpiade yang diikutinya, menerima pandangan kagum dari
teman-temannya, dan pandangan bangga dari guru-gurunya. Ia sangat ingin hal-hal
itu bisa dirasakannya lagi. Tapi Hasby tidak boleh egois, ia tidak mau menambah
beban orangtuanya.
Ibunya hanyalah pembantu rumah
tangga di rumah Pak RT di kampungnya. Sedangkan ayahnya sering terbaring sakit
di atas tikar di rumahnya akibat terlalu lelah bekerja tanpa istirahat. Hasby
lah satu-satunya yang bisa membantu orangtuanya karena merupakan anak tunggal.
Seperti ayahnya, Hasby bekerja
serabutan, apapun yang bisa dikerjakannya akan ia lakukan. Terkadang, jika
tidak ada yang membutuhkan tenaganya, ia akan membantu pekerjaan ibunya, atau
menjaga ayahnya yang sakit di rumah.
“Hasby, setelah ini tolong bawakan
beberapa baskom kecil dan cetakan kue yang ada di dapur ke rumah Pak RT ya, ibu
akan buat kue di sana, Pak RT akan mengadakan syukuran”, ucap ibunya sebelum
berlalu ke kamar, membawakan makan untuk ayahnya yang sedang sakit.
“Iya bu, kita pergi sekarang?”,
tanya Hasby karena melihat ibunya belum bersiap-siap untuk pergi.
“Kamu duluan saja, ibu harus
menyiapkan alat dan bahan lainnya”, jawab ibunya sedikit berteriak dari dalam
bilik kamar ayahnya.
Hasby langsung pergi ke rumah Pak RT
dengan membawa alat-alat yang diperintahkan ibunya. Hari itu masih sangat pagi,
mungkin sekitar jam 6, Hasby tidak tau tepatnya karena tidak ada jam di
rumahnya. Rumah Pak RT tidak jauh dari rumahnya, hanya berjarak 10 rumah saja.
Begitu sampai, Hasby langsung
menemui Pak RT. Hasby melihat Pak RT juga sedang sibuk mengatur persiapan
syukuran yang akan diadakan besok.
“Pak, ini saya taruh mana ya?”,
tanya Hasby kebingungan karena melihat banyak orang sibuk dengan persiapan
syukuran.
“Oh, Hasby! Kamu masuk saja ke
dalam, ada Bu RT di dapur”, jawab Pak RT yang sedikit menaikkan suaranya karena
banyak suara di sana. Halaman rumah Pak RT memang luas, jadi akan didirikan
tenda di situ.
Hasby langsung pergi ke dalam rumah
Pak RT untuk meletakkan barang-barang bawaannya, dan menemui Bu RT untuk
memberitahu bahwa ibunya akan datang menyusul. Ternyata keadaan di dapur juga
tidak kalah ramai dan bising dari keadaan di halaman. Banyak ibu-ibu
tetangganya yang juga ikut membantu memasak di dapur, kebiasaan merumpi dari
ibu-ibu itulah salah satu penyebab bisingnya dapur di rumah Pak RT. Namun,
kebisingan itu dibuat lebih buruk lagi karena ada suara tangis anak Pak RT yang
terus menggelayuti Bu RT.
“Bu, alat-alat ini saya taruh mana
ya?”, Hasby sedikit kebingungan mengajak Bu RT bicara, karena anaknya yang
terus menangis.
“Kamu taruh di bawah kompor saja.
Ibu kamu mana?”, Bu RT sedikit kerepotan juga dengan anaknya itu, membuat Hasby
tidak tega.
“Ibu saya sebentar lagi sampai. Si
Fahri kenapa, Bu?”, akhirnya Hasby tidak dapat menyembunyikan rasa
penasarannya.
“Si Fahri belum mengerjakan PR nya,
kamu tahu sendiri kan Hasby, Fahri ini hanya tahu bermain saja, sedangkan PR
itu harus dikumpulkan hari ini. Ya saya mana bisa mengerjakan PR nya, saya
sudah tidak ingat lagi pelajaran-pelajaran sekolah”, jawab Bu RT sedikit jengkel
dengan anaknya yang sudah duduk di kelas 3 SMP itu. Anak Pak RT memang terkenal
manja, karena ia juga merupakan anak tunggal seperti Hasby. Hasby memutuskan
untuk membantu Fahri mengerjakan PR nya.
“Memangnya itu PR apa? Biar Bang
Hasby bantu kerjakan ya?”, tanya Hasby kepada Fahri.
“Ini PR matematika Bang. Bang Hasby
memangnya bisa?”, tanya Fahri masih dengan sisa-sisa tangisannya, menatap Hasby
tidak yakin.
“Ayo kita kerjakan di ruang lain
saja”, jawab Hasby dengan senyum maklum.
Mereka berdua pergi meninggalkan
dapur, bertepatan dengan ibu Hasby yang baru datang. Ibu Hasby bingung melihat
Hasby masuk ke dalam rumah Pak RT, bukannya membantu Pak RT di luar. Bu RT lah
yang akhirnya menjelaskan hal yang baru saja terjadi, membuat ibu Hasby
mengerti.
Keesokan harinya, ketika syukuran
diadakan, Hasby dan orangtuanya datang ke rumah Pak RT untuk sekedar memberikan
do’a dan selamat. Di sana, Hasby bertemu Pak RT, Bu RT, dan Fahri.
“Hey, Bang Hasby, PR ku kemarin
benar semua, dapat nilai 100! Nanti kalau ada PR lagi, Bang Hasby bantuin lagi
ya”, ucapan Fahri yang berapi-api memotong niat Hasby untuk menyapa duluan.
“Iya Hasby, kamu mau kan jadi guru
Fahri di rumah? Kami tidak pernah sempat mengajarinya karena terlalu sibuk”,
ucapan Pak RT yang tiba-tiba itu membuat Hasby terkejut.
“Iya Pak, boleh. Dengan senang hati
saya akan membantu”. Hasby begitu senang mendengar tawaran itu. Setidaknya,
walaupun tidak bisa melanjutkan sekolah, ia masih bisa berbagi ilmunya kepada
orang lain.
Sejak hari itu, Hasby menjadi guru
pribadi Fahri di rumah Pak RT. Awalnya Hasby hanya datang jika Fahri
membutuhkan untuk membantunya mengerjakan PR. Namun karena Fahri akan menjalani
UN, membuat Hasby setidaknya seminggu-tiga kali untuk mengajarinya. Pak RT juga
ikut senang, karena Fahri menjadi semangat belajar. Fahri bilang, cara mengajar
Hasby sangat seru dan mudah dipahami. Nilai-nilai Fahri di sekolahpun menjadi
meningkat.
Sampai ketika hari pengumuman
kelulusan tiba, ternyata Fahri bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Membuat
keluarga Pak RT dan keluarga Hasby ikut senang. Pak RT sangat berterimakasih
kepada Hasby. Tapi, Hasby berkata bahwa itu adalah hasil usaha Fahri sendiri,
Hasby hanya sedikit membantunya saja. Walaupun Hasby berkata begitu, Pak RT
tetap ingin memberikan hadiah kepada Hasby. Hari itu, Pak RT sekeluarga datang
ke rumah kecil Hasby.
“Begini Pak, Bu, Hasby, saya sangat
berterimakasih atas jasa Hasby yang telah membantu anak saya sampai lulus. Saya berniat membalas
jasa Hasby. Saya ingin membantu Hasby untuk kembali bersekolah, saya akan
menanggung biayanya”, ucapan Pak RT membuat Hasby begitu terkejut, sampai
hampir tidak bisa berkata-kata.
“Terimakasih Pak RT, tapi itu
terlalu berlebihan. Lagipula, Pak RT juga sudah membayar saya setiap saya
datang untuk mengajar Fahri”, Hasby memang sangat menginginkan kembali sekolah,
namun ia tahu biaya sekolah tidak murah.
“Kami melihat potensimu Hasby, kamu
sangat cerdas. Sayang sekali jika kamu harus berhenti sekolah, sedangkan
kemampuanmu begitu tinggi. Kamu tidak bisa menolak, karena saya sudah
mendaftarkan nama kamu untuk sekolah di SMA Mandiri di tahun ajaran baru
nanti”, ucap Pak RT yang tidak bisa lagi dibantah membuat Hasby dan orangtuanya
yang mendengar itu begitu senang. Sampai air mata tidak dapat lagi terbendung.
“Terimakasih Pak RT, saya
benar-benar berterimakasih. Saya memang sangat ingin melanjutkan sekolah.
Sekali lagi terimakasih Pak”, ucap Hasby berulang-ulang. Orangtuanya memandang
Hasby dengan tersenyum lega, akhirnya bisa melihat sinar semangat itu kembali
muncul di wajah anaknya.
“Segala persiapannya akan kami
bantu. Tapi, kamu tetap harus mengajarkan anak saya ya, Hasby”, ucapan Pak RT
yang diakhiri dengan tawa sedikit mencairkan suasana haru di rumah kecil itu.
“Iya Pak, terimakasih”, Hasby tidak
tau lagi apa yang harus diucapkannya selain terimakasih. Ini terasa seperti
sebuah keajaiban besar baginya. Bagaikan mu’jizat yang tidak mungkin terjadi.
Akhirnya Hasby bisa kembali
bersekolah. Hasby sangat bersyukur akan hal itu. Walaupun ia harus menjadi adik
kelas dari teman-teman SD dan SMP nya, itu tidak menjadi masalah untuk Hasby,
yang terpenting ia bisa melanjutkan sekolah, menorehkan banyak prestasi baru,
dan berusaha menggapai cita-citanya.
Hasby sadar, hidup butuh perjuangan.
Putus asa tidak menjadikan hidup ini lebih baik. Karena setiap kesusahan, akan
ada kemudahan.
Itulah contoh cerpen yang bisa saya bagikan.
Oh iya, adakah yang penasaran kenapa saya pilih nama Hasby, nama yang agak keren untuk cerita yang agak menyedihkan ini? Kalau gak ada yang penasaran pun, akan saya kasih tau juga, hehe...
Jadi, nama Hasby ini diambil dari gabungan awal huruf dari nama saya, kakak saya, dan adik-adik saya:
Hamzah (5), Afkar (4), Susan (2), Bayu (3), Yasir (1)
Angka yang di dalem kurung itu urutan lahirnya kita, hehe..
Oke,, sekian dulu,, terimakasih atas kunjungannya..
Wassalamu'alaikum...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar