Selasa, 13 Maret 2018
Puisi Galau
Kebimbangan menyergap
Mengunci pikiran dalam pengap
Kawan layaknya asap
Yang segera lenyap
Aku tersadar
Dunia terus berputar
Walau ku terkapar
Semuanya telah berpencar
Tapi Allah Maha Baik
Semua hal pelik
Hanya seperti sebuah titik
Diantara kebahagiaan yang disusun apik
Satu yang paling ku syukuri
Keluarga yang ku miliki
Selalu siap menemani
Kala ku sendiri
Cerpen Sederhana Bagi Pemula
Assalamu'alaikum...
Hai teman-teman,, kali ini saya membagikan sebuah cerpen yang sangat sederhana...
Semoga bermanfaat..
Bagi pemula seperti saya yang ingin menulis cerpen, saya mencoba megambil konflik yang sederhana. Tidak langsung membawa konflik yang berat, nanti yang ada malah gak selesai-selesai cerpennya, karena mikirin penyelesaian untuk konfliknya, hehe..
Terus, tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan dicoret-coret dulu,, terus aja nulis.
Jangan bandingkan karya kita -yang masih pemula ini- sama karya-karya orang yang udah mahir dan terbiasa menulis, nanti jatuhnya malah gak pede sama tulisan kita. nanti kita juga bisa mahir kalo udah terbiasa nulis kok.
Kayaknya kebanyakan prolog ya, hehe...
Hai teman-teman,, kali ini saya membagikan sebuah cerpen yang sangat sederhana...
Semoga bermanfaat..
Bagi pemula seperti saya yang ingin menulis cerpen, saya mencoba megambil konflik yang sederhana. Tidak langsung membawa konflik yang berat, nanti yang ada malah gak selesai-selesai cerpennya, karena mikirin penyelesaian untuk konfliknya, hehe..
Terus, tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan dicoret-coret dulu,, terus aja nulis.
Jangan bandingkan karya kita -yang masih pemula ini- sama karya-karya orang yang udah mahir dan terbiasa menulis, nanti jatuhnya malah gak pede sama tulisan kita. nanti kita juga bisa mahir kalo udah terbiasa nulis kok.
Kayaknya kebanyakan prolog ya, hehe...
Mu’jizat
Menyenangkan rasanya pergi ke
sekolah bersama teman-teman, bercanda bersama, berbagi pengetahuan dengan
guru-guru di kelas, belajar kelompok, dan terkadang menjahili teman yang
tertidur di kelas. Itulah yang dirasakan Hasby selama 9 tahun ke belakang.
Hasby, itulah namanya, remaja berusia 15 tahun yang setiap pagi hanya bisa
melamun di dalam bilik kamarnya, memandang teman-temannya bersekolah lewat
celah kecil di dalam biliknya.
“Nak, ayo sarapan dulu”, suara
ibunyalah yang selalu menginterupsi kegiatan setiap paginya itu. Ibunya sangat
tahu apa yang difikirkan oleh Hasby. Hasby ingin kembali ke sekolah. Ya, itulah
alasan Hasby selalu memandang iri teman-temannya yang pergi sekolah setiap pagi
tanpa dirinya.
“Ya, Bu”. Hasby juga sangat tahu, ibunya
merasa sedih melihatnya selalu melamun seperti itu. Sejujurnya, Hasby merasa
bersalah sudah membuat ibunya sedih, namun Hasby masih belum bisa menghilangkan
kebiasaannya itu.
Hasby pernah seperti mereka,
merasakan bangku sekolah. Setidaknya, ia menyimpan ijazah SD dan SMP di dalam
lemari kayu kecil buatan ayahnya yang sudah usang dan sedikit lapuk. Hasby
hanya ingin melanjutkan sekolah, mendapat pengetahuan yang lebih banyak, supaya
bisa menggapai cita-citanya dan membahagiakan orangtuanya. Namun, Hasby
menyadari, hanya untuk makan sehari-tiga kalipun sangat sulit untuknya.
Hasby tinggal di sebuah rumah kecil
yang terbuat dari bilik bambu. Hanya ada 4 ruangan kecil di dalamnya, 2 kamar
tidur, dapur, dan ruang kosong yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu.
Tidak ada alat elektronik di rumahnya, bahkan listrik sekalipun. Untuk memasak,
mereka masih menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sebenarnya, banyak tetangga
yang mau membantunya dengan cuma-cuma, itu karena keluarga Hasby sangat
disenangi karena kebaikan hati dan keramahannya. Namun, Hasby dan orangtuanya
selalu menolak penawaran dan pemberian apapun dari tetangganya. Bukan apa,
hanya saja Hasby dan orangtuanya takut akan terus bergantung kepada mereka.
Hasby tidak pernah mengeluhkan
hidupnya pada siapapun. Meskipun miskin, keluarganya hidup rukun. Hasby
memiliki tubuh yang sehat dan kuat walaupun kurus. Tubuhnya temasuk tinggi
untuk remaja seusianya, memiliki warna kulit yang gelap dan kasar karena sering
melakukan pekerjaan yang berat, juga rambut yang kusam dan kemerah-merahan
akibat terlalu sering terkena paparan sinar matahari.
Hasby anak yang cerdas dan
berprestasi di sekolahnya, itulah salah satu alasannya sangat ingin kembali
sekolah. Ia rindu namanya disebut paling awal ketika pembagian rapor tiap
tahunnya, karena menjadi juara kelas. Ia ingin kembali memenangkan
olimpiade-olimpiade yang diikutinya, menerima pandangan kagum dari
teman-temannya, dan pandangan bangga dari guru-gurunya. Ia sangat ingin hal-hal
itu bisa dirasakannya lagi. Tapi Hasby tidak boleh egois, ia tidak mau menambah
beban orangtuanya.
Ibunya hanyalah pembantu rumah
tangga di rumah Pak RT di kampungnya. Sedangkan ayahnya sering terbaring sakit
di atas tikar di rumahnya akibat terlalu lelah bekerja tanpa istirahat. Hasby
lah satu-satunya yang bisa membantu orangtuanya karena merupakan anak tunggal.
Seperti ayahnya, Hasby bekerja
serabutan, apapun yang bisa dikerjakannya akan ia lakukan. Terkadang, jika
tidak ada yang membutuhkan tenaganya, ia akan membantu pekerjaan ibunya, atau
menjaga ayahnya yang sakit di rumah.
“Hasby, setelah ini tolong bawakan
beberapa baskom kecil dan cetakan kue yang ada di dapur ke rumah Pak RT ya, ibu
akan buat kue di sana, Pak RT akan mengadakan syukuran”, ucap ibunya sebelum
berlalu ke kamar, membawakan makan untuk ayahnya yang sedang sakit.
“Iya bu, kita pergi sekarang?”,
tanya Hasby karena melihat ibunya belum bersiap-siap untuk pergi.
“Kamu duluan saja, ibu harus
menyiapkan alat dan bahan lainnya”, jawab ibunya sedikit berteriak dari dalam
bilik kamar ayahnya.
Hasby langsung pergi ke rumah Pak RT
dengan membawa alat-alat yang diperintahkan ibunya. Hari itu masih sangat pagi,
mungkin sekitar jam 6, Hasby tidak tau tepatnya karena tidak ada jam di
rumahnya. Rumah Pak RT tidak jauh dari rumahnya, hanya berjarak 10 rumah saja.
Begitu sampai, Hasby langsung
menemui Pak RT. Hasby melihat Pak RT juga sedang sibuk mengatur persiapan
syukuran yang akan diadakan besok.
“Pak, ini saya taruh mana ya?”,
tanya Hasby kebingungan karena melihat banyak orang sibuk dengan persiapan
syukuran.
“Oh, Hasby! Kamu masuk saja ke
dalam, ada Bu RT di dapur”, jawab Pak RT yang sedikit menaikkan suaranya karena
banyak suara di sana. Halaman rumah Pak RT memang luas, jadi akan didirikan
tenda di situ.
Hasby langsung pergi ke dalam rumah
Pak RT untuk meletakkan barang-barang bawaannya, dan menemui Bu RT untuk
memberitahu bahwa ibunya akan datang menyusul. Ternyata keadaan di dapur juga
tidak kalah ramai dan bising dari keadaan di halaman. Banyak ibu-ibu
tetangganya yang juga ikut membantu memasak di dapur, kebiasaan merumpi dari
ibu-ibu itulah salah satu penyebab bisingnya dapur di rumah Pak RT. Namun,
kebisingan itu dibuat lebih buruk lagi karena ada suara tangis anak Pak RT yang
terus menggelayuti Bu RT.
“Bu, alat-alat ini saya taruh mana
ya?”, Hasby sedikit kebingungan mengajak Bu RT bicara, karena anaknya yang
terus menangis.
“Kamu taruh di bawah kompor saja.
Ibu kamu mana?”, Bu RT sedikit kerepotan juga dengan anaknya itu, membuat Hasby
tidak tega.
“Ibu saya sebentar lagi sampai. Si
Fahri kenapa, Bu?”, akhirnya Hasby tidak dapat menyembunyikan rasa
penasarannya.
“Si Fahri belum mengerjakan PR nya,
kamu tahu sendiri kan Hasby, Fahri ini hanya tahu bermain saja, sedangkan PR
itu harus dikumpulkan hari ini. Ya saya mana bisa mengerjakan PR nya, saya
sudah tidak ingat lagi pelajaran-pelajaran sekolah”, jawab Bu RT sedikit jengkel
dengan anaknya yang sudah duduk di kelas 3 SMP itu. Anak Pak RT memang terkenal
manja, karena ia juga merupakan anak tunggal seperti Hasby. Hasby memutuskan
untuk membantu Fahri mengerjakan PR nya.
“Memangnya itu PR apa? Biar Bang
Hasby bantu kerjakan ya?”, tanya Hasby kepada Fahri.
“Ini PR matematika Bang. Bang Hasby
memangnya bisa?”, tanya Fahri masih dengan sisa-sisa tangisannya, menatap Hasby
tidak yakin.
“Ayo kita kerjakan di ruang lain
saja”, jawab Hasby dengan senyum maklum.
Mereka berdua pergi meninggalkan
dapur, bertepatan dengan ibu Hasby yang baru datang. Ibu Hasby bingung melihat
Hasby masuk ke dalam rumah Pak RT, bukannya membantu Pak RT di luar. Bu RT lah
yang akhirnya menjelaskan hal yang baru saja terjadi, membuat ibu Hasby
mengerti.
Keesokan harinya, ketika syukuran
diadakan, Hasby dan orangtuanya datang ke rumah Pak RT untuk sekedar memberikan
do’a dan selamat. Di sana, Hasby bertemu Pak RT, Bu RT, dan Fahri.
“Hey, Bang Hasby, PR ku kemarin
benar semua, dapat nilai 100! Nanti kalau ada PR lagi, Bang Hasby bantuin lagi
ya”, ucapan Fahri yang berapi-api memotong niat Hasby untuk menyapa duluan.
“Iya Hasby, kamu mau kan jadi guru
Fahri di rumah? Kami tidak pernah sempat mengajarinya karena terlalu sibuk”,
ucapan Pak RT yang tiba-tiba itu membuat Hasby terkejut.
“Iya Pak, boleh. Dengan senang hati
saya akan membantu”. Hasby begitu senang mendengar tawaran itu. Setidaknya,
walaupun tidak bisa melanjutkan sekolah, ia masih bisa berbagi ilmunya kepada
orang lain.
Sejak hari itu, Hasby menjadi guru
pribadi Fahri di rumah Pak RT. Awalnya Hasby hanya datang jika Fahri
membutuhkan untuk membantunya mengerjakan PR. Namun karena Fahri akan menjalani
UN, membuat Hasby setidaknya seminggu-tiga kali untuk mengajarinya. Pak RT juga
ikut senang, karena Fahri menjadi semangat belajar. Fahri bilang, cara mengajar
Hasby sangat seru dan mudah dipahami. Nilai-nilai Fahri di sekolahpun menjadi
meningkat.
Sampai ketika hari pengumuman
kelulusan tiba, ternyata Fahri bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Membuat
keluarga Pak RT dan keluarga Hasby ikut senang. Pak RT sangat berterimakasih
kepada Hasby. Tapi, Hasby berkata bahwa itu adalah hasil usaha Fahri sendiri,
Hasby hanya sedikit membantunya saja. Walaupun Hasby berkata begitu, Pak RT
tetap ingin memberikan hadiah kepada Hasby. Hari itu, Pak RT sekeluarga datang
ke rumah kecil Hasby.
“Begini Pak, Bu, Hasby, saya sangat
berterimakasih atas jasa Hasby yang telah membantu anak saya sampai lulus. Saya berniat membalas
jasa Hasby. Saya ingin membantu Hasby untuk kembali bersekolah, saya akan
menanggung biayanya”, ucapan Pak RT membuat Hasby begitu terkejut, sampai
hampir tidak bisa berkata-kata.
“Terimakasih Pak RT, tapi itu
terlalu berlebihan. Lagipula, Pak RT juga sudah membayar saya setiap saya
datang untuk mengajar Fahri”, Hasby memang sangat menginginkan kembali sekolah,
namun ia tahu biaya sekolah tidak murah.
“Kami melihat potensimu Hasby, kamu
sangat cerdas. Sayang sekali jika kamu harus berhenti sekolah, sedangkan
kemampuanmu begitu tinggi. Kamu tidak bisa menolak, karena saya sudah
mendaftarkan nama kamu untuk sekolah di SMA Mandiri di tahun ajaran baru
nanti”, ucap Pak RT yang tidak bisa lagi dibantah membuat Hasby dan orangtuanya
yang mendengar itu begitu senang. Sampai air mata tidak dapat lagi terbendung.
“Terimakasih Pak RT, saya
benar-benar berterimakasih. Saya memang sangat ingin melanjutkan sekolah.
Sekali lagi terimakasih Pak”, ucap Hasby berulang-ulang. Orangtuanya memandang
Hasby dengan tersenyum lega, akhirnya bisa melihat sinar semangat itu kembali
muncul di wajah anaknya.
“Segala persiapannya akan kami
bantu. Tapi, kamu tetap harus mengajarkan anak saya ya, Hasby”, ucapan Pak RT
yang diakhiri dengan tawa sedikit mencairkan suasana haru di rumah kecil itu.
“Iya Pak, terimakasih”, Hasby tidak
tau lagi apa yang harus diucapkannya selain terimakasih. Ini terasa seperti
sebuah keajaiban besar baginya. Bagaikan mu’jizat yang tidak mungkin terjadi.
Akhirnya Hasby bisa kembali
bersekolah. Hasby sangat bersyukur akan hal itu. Walaupun ia harus menjadi adik
kelas dari teman-teman SD dan SMP nya, itu tidak menjadi masalah untuk Hasby,
yang terpenting ia bisa melanjutkan sekolah, menorehkan banyak prestasi baru,
dan berusaha menggapai cita-citanya.
Hasby sadar, hidup butuh perjuangan.
Putus asa tidak menjadikan hidup ini lebih baik. Karena setiap kesusahan, akan
ada kemudahan.
Itulah contoh cerpen yang bisa saya bagikan.
Oh iya, adakah yang penasaran kenapa saya pilih nama Hasby, nama yang agak keren untuk cerita yang agak menyedihkan ini? Kalau gak ada yang penasaran pun, akan saya kasih tau juga, hehe...
Jadi, nama Hasby ini diambil dari gabungan awal huruf dari nama saya, kakak saya, dan adik-adik saya:
Hamzah (5), Afkar (4), Susan (2), Bayu (3), Yasir (1)
Angka yang di dalem kurung itu urutan lahirnya kita, hehe..
Oke,, sekian dulu,, terimakasih atas kunjungannya..
Wassalamu'alaikum...
Jumat, 09 Maret 2018
Makalah Asas-asas Bimbingan dan Konseling
ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING
Makalah
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Bimbingan dan Konseling
Oleh Kelompok 5:
Achmad Ma’ruf Islamuddin B53217058
Sausan Fajriyati B53217071
Arinal Haq Asy’ari B93217077
Maulida Rohmatasari B93217094
Dosen Pengampu:
Dita Kurnia Sari, M. Pd.
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim. Berkat
Rahmat dan Hidayah Allah Swt, maka syukur alhamdulillah kami dapat
menyelesaikan tugas PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING yang berjudul “Asas-Asas
Bimbingan Konseling” ini dengan baik.
Mengkaji beberapa sumber buku yang
mendukung materi ini, kami menemukan berbagai Asas bimbingan konseling serta
pembahasannya. Hal tersebut akan kami ulas dalam susunan makalah ini.
Semoga apa yang kami sampaikan
dalam makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan kemudahan bagi kita semua.
Amin.
Surabaya,
10 Desember 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
|
KATA PENGANTAR
|
…………………………………………………………….
|
i
|
|
DAFTAR ISI
|
…………………………………………………………….
|
ii
|
|
Bab I
|
Pendahuluan
|
|
|
|
A.
Latar
Belakang……………………………………
|
1
|
|
|
B.
Rumusan
Masalah………………………………...
|
1
|
|
|
C.
Tujuan……………………………………………..
|
1
|
|
Bab II
|
Pembahasan
|
|
|
|
A.
Asas
Kerahasiaan...….……………………………..
|
2
|
|
|
B.
Asas
Kesukarelaan...……………………………….
|
2
|
|
|
C.
Asas
Keterbukaan...………………………………..
|
3
|
|
|
D.
Asas
Kekinian……………………………………...
|
4
|
|
|
E.
Asas
Kemandirian………...………………………..
|
4
|
|
|
F.
Asas
Kegiatan……………………………………...
|
5
|
|
|
G.
Asas
Kedinamisan………………………………….
|
6
|
|
|
H.
Asas
Keterpaduan………………………………….
|
7
|
|
|
I.
Asas
kenormatifan…………………………………
|
7
|
|
|
J.
Asas
Keahlian……………………………………...
|
8
|
|
|
K.
Asas
Alih Tangan…………………………………..
|
8
|
|
|
L.
Asas
Tut Wuri Handayani………………………….
|
8
|
|
|
M.
Asas
Kerjasama…………………………………….
|
9
|
|
Bab III
|
Penutup
|
|
|
|
A.
Kesimpulan………………………………………..
|
10
|
|
|
B.
Saran………………………………………………
|
10
|
|
Daftar
Pustaka
|
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pelayanan
bimbingan dan konseling adalah pekerjaan profesional, maka harus dilaksanakan
dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu. Mengikuti
kaidah-kaidah atau asas-asas tersebut, diharapkan efektifitas dan efisiensi
proses bimbingan dan konseling dapat tercapai. Selain itu, agar tidak terjadi
penyimpangan-penyimpangan dalam praktik pemberian layanan.[1]
Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling, kaidah-kaidah tersebut
dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu
ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan.
Apabila dalam layanan bimbingan dan konseling dalam pelaksanaan
pelayanannya menerapkan asas-asas atau kaidah-kaidah yang dimaksud, maka
layanan tersebut akan mengarah kepada pencapaian tujuan, dan sebaliknya apabila
asas-asas tersebut diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan
layanan bimbingan dan konseling justru berlawanan dengan tujuan layanan, bahkan
akan merugikan orang-orang yang terlibat di dalam pelayanan bimbingan dan
konseling itu sendiri.[2]
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
saja asas-asas bimbingan dan konseling?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
apa saja asas-asas dalam bimbingan dan konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Asas Kerahasiaan
Masih banyak orang yang beranggapan bahwa mengalami masalah
merupakan suatu aib yang harus ditutup-tutupi sehingga tidak seorang pun
(selain diri sendiri) boleh tahu akan adanya masalah itu. Keadaan seperti ini
sangat menghambat pemanfaatan layanan bimbingan dan konseling oleh masyarakat.
Jika bimbingan dan konseling ini dimanfaatkan secara penuh, masyarakat perlu
mengetahui bahwa layanan bimbingan dan konseling harus menerapkan asas-asas
kerahasiaan secara penuh.[3]
Segala
sesuatu yang dibicarakan konseli kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada
orang lain. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan dan
konseling. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan, maka penyelenggara atau
pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak, terutama penerima
bimbingan konseli, sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan
konseling dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang
asas kerahasiaan dengan baik, maka hilanglah kepercayaan konseli,
sehingga akibatnya pelayanan bimbingan tidak dapat tempat di hati konseli,
mereka takut untuk meminta bantuan, sebab khawatir masalah dan diri mereka akan
menjadi bahan gunjingan.[4]
B.
Asas Kesukarelaan
Proses
bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan, baik dari
pihak pembimbing (konselor) maupun dari pihak yang dibimbing (konseli).
Konseli diharapkan secara sukarela, tanpa terpaksa, dan
tanpa ragu-ragu menyampaikan masalah yang dihadapinya, serta mengungkapkan
semua fakta, data, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan masalah yang
dihadapinya kepada konselor. Sebaliknya, konselor atau pembimbing dalam
memberikan bimbingan juga hendaknya jangan karena terpaksa. Dengan perkataan
lain, konselor harus memberikan pelayanan bimbingan dan konseling secara
ikhlas.[5]
Berdasarkan
asas ini, bukan berarti konselor tidak boleh menerima jasa dari pelayanan
bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan
profesi, oleh sebab itu, pembimbing atau konselor tidak dilarang menerima gaji
atau upah, tetapi hendaknya gaji atau upah tidak menjadi tujuan. Konselor tidak
memberikan pelayanan bimbingan dan konseling karena terpaksa. Asas ini sangat
relevan dengan ajaran Islam berkenaan dengan ikhlas. Konseli
harus ikhlas (tidak terpaksa) untuk mengikuti bimbingan dan konseling, dan
konselor pun harus ikhlas memberikan bimbingan dan konseling.[6]
Bagi
konseli yang datang dipanggil oleh konselor, hal ini tidak melanggar asas
kesukarelaan, namun dalam hal ini konselor berkewajiban mengembangkan sikap
sukarela pada diri konseli, sehingga
konseli dapat menghilangkan rasa keterpaksaannya saat menghadap kepada
konselor.[7]
C.
Asas Keterbukaan
Bimbingan
atau konseling yang efisien hanya berlangsung dalam suasana keterbukaan. Baik
konseli maupun konselor harus
bersifat terbuka. Melalui keterbukaan ini penelaahan masalah
serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan konseli
menjadi mungkin. Perlu diperhatikan bahwa keterbukaan hanya akan terjadi bila
konseli tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan yang semestinya
diterapkan oleh konselor. Usaha untuk keterbukaan
konseli,
konselor harus terus-menerus membina suasana hubungan konseling sedemikian
rupa, sehingga konseli yakin bahwa konselor juga bersikap terbuka, dan
yakin bahwa asas kerahasiaan memang terselenggarakan. Kesukarelaan konseli
tentu saja menjadi dasar bagi keterbukaannya.[8]
Keterbukaan
konselor dengan konselinya dan konseli dengan
konselornya dapat menciptakan hubungan yang harmonis dalam konseling.
Kesukarelaan konseli dan kesukarelaan konselor dapat mendorong adanya keterbukaan dalam
proses konseling, dengan demikian kemungkinan untuk berhasil dalam konseling
sangat terbuka. Keberhasilan konseling salah satunya ditentukan oleh
keterbukaan, khususnya konseli kepada
konselor dan juga keterbukaan konselor.[9]
Asas
ini tidak kontradiktif dengan asas kerahasiaan, Karena keterbukaan yang
dimaksud menyangkut kesediaan menerima saran-saran dari luar dan kesediaan
membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Konselor pun harus terbuka
dengan bersedia menjawab berbagai pertanyaan dari konseli dan
mengungkapkan diri konselor sendiri apabila hal tersebut dikehendaki oleh
konseli. Tegasnya, dalam proses bimbingan dan konseling masing-masing
pihak harus terbuka (transparan) terhadap pihak lainnya.[10]
D.
Asas Kekinian
Masalah
konseli yang dicari solusinya dalam konseling adalah masalah-masalah
konseli saat sekarang, bukan masalah-masalah masa lampau dan/atau
masalah-masalah yang akan datang (masalah yang kemungkinan terjadi). Masalah
masa lampau maupun kemungkinan masalah yang akan datang dapat dianalisis untuk
mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh konseli
saat sekarang. Karena bisa terjadi apa yang dihadapi oleh konseli saat sekarang merupakan akibat dari masalah masa lampau dan masalah
yang akan datang.[11]
Asas
kekinian juga mengandung makna bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda
pemberian bantuan apabila konseli meminta
bantuan.[12]
Konselor
harus mendahulukan kepentingan konseli daripada yang
lain-lain. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak
memberikan bantuannya kini, maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa
penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan konseli.[13]
E.
Asas Kemandirian
Kemandirian
merupakan tujuan dari usaha layanan bimbingan dan konseling. Ketika
memberikan layanan, para konselor hendaklah selalu berusaha menghidupkan
kemandirian pada diri konseli, jangan
hendaknya para konseli itu menjadi tergantung pada orang lain, khususnya kepada konselor.[14]
Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan
ciri-ciri pokok mampu:
1.
Mengenal
diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya,
2.
Menerima
diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis,
3.
Mengambil
keputusan untuk dan oleh diri sendiri,
4.
Mengarahkan
diri sesuai dengan keputusan itu,
5.
Mewujudkan
diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat, dan kemampuan-kemampuan yang
dimilikinya.[15]
Kemandirian
dengan ciri-ciri umum di atas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan
dan peranan konseli dalam kehidupannya sehari-hari. Kemandirian sebagai hasil
konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling, dan hal itu disadari
baik oleh konselor maupun oleh konseli.[16]
Penerapan
asas kemandirian dalam proses konseling yang harus disadari oleh konselor
adalah menghindari memberikan saran, nasihat kepada konseli
dalam menentukan apa yang akan dilakukan. Konselor dalam konseling akan
membelajarkan konseli terampil membuat suatu keputusan, karena itu dalam proses
konseling, pengambil keputusan ada pada konseli
dengan segala resikonya. Dengan demikian, konseli
terlatih untuk membuat suatu keputusan dan berani bertanggungjawab akan
keputusannya.[17]
F.
Asas Kegiatan
Pelayanan
bimbingan dan konseling tidak akan memberikan hasil yang berarti apabila konseli
tidak melakukan sendiri kegiatan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling.
Hasil usaha yang menjadi tujuan bimbingan dan konseling tidak akan tercapai
dengan sendirinya, melainkan harus dicapai dengan kerja giat dari konseli
sendiri. Konselor harus dapat membangkitkan semangat konseli
sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam
penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam proses konseling.[18]
G.
Asas Kedinamisan
Usaha
bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada individu yang
dibimbing, yaitu perubahan perilaku ke arah yang yang lebih baik. Perubahan
yang terjadi tidak sekedar mengulang-ulang hal-hal yang lama yang bersifat
monoton, melainkan perubahan yang selalu menuju ke suatu pembaruan atau sesuatu
yang lebih maju dan dinamis sesuai dengan arah perkembangan konseli
yang dikehendaki.[19]
H.
Asas Keterpaduan
Pelayanan
bimbingan dan konseling berusaha memadukan berbagai aspek kepribadian konseli.
Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau
keadaannya tidak seimbang, serasi, dan terpadu, justru akan menimbulkan
masalah. Di samping keterpaduan pada diri konseli,
harus diperhatikan juga keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan.
Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang
lain.[20]
Demi
terselenggaranya asas keterpaduan, konselor perlu memiliki wawasan yang luas
tentang perkembangan konseli dan
aspek-aspek lingkungan konseli. Kesemuanya
itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan
dan konseling.[21]
Asas
keterpaduan juga bermakna bahwa dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling dapat dipadukan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal ini dipahami
bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak harus dilaksanakan secara terpisah
dengan kegiatan lainnya, namun kegiatan layanan bimbingan dan konseling dapat
dilakukan bersamaan dengan kegiatan yang lain.[22]
I.
Asas Kenormatifan
Usaha
bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang
berlaku, baik ditinjau dari norma agama, norma adat, norma hukum/negara, norma
ilmu, maupun kebiasaan sehari-hari. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi
maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Seluruh isi layanan
harus sesuai dengan norma-norma yang ada. Demikian pula prosedur, teknik dan
peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan.[23]
J.
Asas Keahlian
Usaha
bimbingan dan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan
sistematik dengan menggunakan prosedur, teknik, dan alat instrumentasi
bimbingan dan konseling yang memadai. Maka, para konselor
perlu mendapat latihan secukupnya, sehingga dengan itu akan dapat dicapai
keberhasilan usaha pemberian layanan. Pelayanan bimbingan dan konseling adalah
pelayanan profesional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus
dididik untuk pekerjaan itu.[24]
Asas
keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor, juga kepada pengalaman
teori dan praktek bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, seorang konselor
harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseling secara baik. Hal ini
juga mengandung makna bahwa berdasarkan asas keahlian ini, layanan konseling
tidak bisa dilakukan oleh semua orang, kecuali orang yang benar-benar memiliki
keahlian dalam konseling.[25]
K.
Asas Alih Tangan
Apabila
konselor telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk memecahkan
masalah konseli, tetapi belum berhasil, maka konselor yang bersangkutan harus
memindahkan tanggung jawab pemberian bimbingan dan konseling kepada konselor
lain atau kepada orang lain yang lebih mengetahui. Asas ini juga bermakna bahwa
konselor dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling jangan melebihi
batas kewenangannya.[26]
L.
Asas Tut Wuri Handayani
Asas
ini merujuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan
keseluruhan antara konselor dan konseli. Terlebih di
lingkungan sekolah, asas ini makin dirasakan keperluannya, karena seorang
individu ada kecenderungan tidak suka selalu dinasehati, dilarang, dan
diperintah. Ada hal-hal tertentu individu dibiarkan untuk berbuat atau
melakukan apa yang dipikirkan dan diinginkan. Layanan bimbingan dan konseling
cukup memonitoring kepada individu tersebut, selama individu tidak melakukan
tindakan yang menyimpang, maka konselor akan tetap membiarkan, namun dikala
individu tampak melakukan penyimpangan, maka konselor akan meluruskan atau
mengembalikan pada perilaku yang baik.[27]
Asas
ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan
adanya pada waktu konseli mengalami
masalah. Bimbingan dan konseling hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya
sebelum dan sesudah konseli menjalani
layanan bimbingan dan konseling secara langsung. Asas ini juga memberikan makna
bahwa untuk bisa menjadi pemecah masalah yang efektif dan bisa dicontoh oleh
konseli, konselor harus memulai dari diri sendiri.[28]
M.
Asas Kerjasama
Dapat
terselenggaranya layanan bimbingan dan konseling secara efektif apabila adanya
kerjasama yang baik dari semua pihak yang terlibat, tanpa adanya kerjasama maka
layanan bimbingan dan konseling tidak akan mungkin terselenggara dengan baik. Tanda terjalinnya kerjasama yang baik, apabila masing-masing pihak yang terlibat (1)
memahami akan tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pelayanan tersebut,
(2) semua pihak yang terlibat sadar akan peran masing-masing dalam proses
layanan bimbingan dan konseling. Apabila
masing-masing pihak terlibat dalam proses layanan bimbingan dan konseling
memiliki tujuan yang berbeda dan tidak memahami perannya, maka dapat terjadi
saling bertentangan dan berjalan masing-masing.[29]
Bab III
Penutup
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan
di atas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah
pekerjaan profesional, maka harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah
tertentu. Kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan
konseling.
Asas-asas
bimbingan dan konseling itu terdiri atas:
1.
Asas
kerahasiaan
2.
Asas
kesukarelaan
3.
Asas
keterbukaan
4.
Asas
kekinian
5.
Asas
kemandirian
6.
Asas
kegiatan
7.
Asas
kedinamisan
8.
Asas
keterpaduan
9.
Asas
kenormatifan
10.
Asas
keahlian
11.
Asas
alih tangan
12.
Asas
Tut Wuri Handayani
13.
Asas
kerjasama
Asas-asas
tersebut adalah ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan
pelayanan, baik oleh konselor maupun konseli,
supaya pelayanan bimbingan dan konseling dapat terlaksana dengan baik.
B.
Saran
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh
karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan untuk
penyempurnaan makalah kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat
menambah wawasan bagi penulis dan pembaca.
Daftar Pustaka
Giyono. 2015. Bimbingan
Konseling. Yogyakarta: Media Akademi.
Prayitno dan Erman Amti.
1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. 2012. Pengantar
Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Tohirin. 2013. Bimbingan
dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: RajaGrafindo Persada.
[1]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 77.
[2]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 101.
[3]
Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 31.
[4]
Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta,
Rineka Cipta, 1999), 115.
[5]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 81.
[6]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 81.
[7]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 102.
[8]
Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 32.
[9]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 103.
[10]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 82.
[11]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 104.
[12]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 82.
[13]
Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta,
Rineka Cipta, 1999), 117.
[14]
Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 34.
[15]
Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta,
Rineka Cipta, 1999), 117.
[16] Ibid.
[17]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 104.
[18]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 83.
[19]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 84.
[20]
Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di
Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 34.
[21]
Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta,
Rineka Cipta, 1999), 118.
[22]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 106.
[23]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 85.
[24]
Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta,
Rineka Cipta, 1999), 119.
[25]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 108.
[26]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 85.
[27]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 110.
[28]
Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis
Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 86.
[29]
Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 110.
Langganan:
Postingan (Atom)