Selasa, 13 Maret 2018

Puisi Galau




Kebimbangan menyergap
Mengunci pikiran dalam pengap
Kawan layaknya asap
Yang segera lenyap

Aku tersadar
Dunia terus berputar
Walau ku terkapar
Semuanya telah berpencar

Tapi Allah Maha Baik
Semua hal pelik
Hanya seperti sebuah titik
Diantara kebahagiaan yang disusun apik

Satu yang paling ku syukuri
Keluarga yang ku miliki
Selalu siap menemani
Kala ku sendiri



Cerpen Sederhana Bagi Pemula

Assalamu'alaikum...
Hai teman-teman,, kali ini saya membagikan sebuah cerpen yang sangat sederhana...
Semoga bermanfaat..

Bagi pemula seperti saya yang ingin menulis cerpen, saya mencoba megambil konflik yang sederhana. Tidak langsung membawa konflik yang berat, nanti yang ada malah gak selesai-selesai cerpennya, karena mikirin penyelesaian untuk konfliknya, hehe..
Terus, tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan dicoret-coret dulu,, terus aja nulis.
Jangan bandingkan karya kita -yang masih pemula ini- sama karya-karya orang yang udah mahir dan terbiasa menulis, nanti jatuhnya malah gak pede sama tulisan kita. nanti kita juga bisa mahir kalo udah terbiasa nulis kok.
Kayaknya kebanyakan prolog ya, hehe...





Mu’jizat

            Menyenangkan rasanya pergi ke sekolah bersama teman-teman, bercanda bersama, berbagi pengetahuan dengan guru-guru di kelas, belajar kelompok, dan terkadang menjahili teman yang tertidur di kelas. Itulah yang dirasakan Hasby selama 9 tahun ke belakang. Hasby, itulah namanya, remaja berusia 15 tahun yang setiap pagi hanya bisa melamun di dalam bilik kamarnya, memandang teman-temannya bersekolah lewat celah kecil di dalam biliknya.
            “Nak, ayo sarapan dulu”, suara ibunyalah yang selalu menginterupsi kegiatan setiap paginya itu. Ibunya sangat tahu apa yang difikirkan oleh Hasby. Hasby ingin kembali ke sekolah. Ya, itulah alasan Hasby selalu memandang iri teman-temannya yang pergi sekolah setiap pagi tanpa dirinya.
            “Ya, Bu”. Hasby juga sangat tahu, ibunya merasa sedih melihatnya selalu melamun seperti itu. Sejujurnya, Hasby merasa bersalah sudah membuat ibunya sedih, namun Hasby masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya itu.
            Hasby pernah seperti mereka, merasakan bangku sekolah. Setidaknya, ia menyimpan ijazah SD dan SMP di dalam lemari kayu kecil buatan ayahnya yang sudah usang dan sedikit lapuk. Hasby hanya ingin melanjutkan sekolah, mendapat pengetahuan yang lebih banyak, supaya bisa menggapai cita-citanya dan membahagiakan orangtuanya. Namun, Hasby menyadari, hanya untuk makan sehari-tiga kalipun sangat sulit untuknya.
            Hasby tinggal di sebuah rumah kecil yang terbuat dari bilik bambu. Hanya ada 4 ruangan kecil di dalamnya, 2 kamar tidur, dapur, dan ruang kosong yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu. Tidak ada alat elektronik di rumahnya, bahkan listrik sekalipun. Untuk memasak, mereka masih menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sebenarnya, banyak tetangga yang mau membantunya dengan cuma-cuma, itu karena keluarga Hasby sangat disenangi karena kebaikan hati dan keramahannya. Namun, Hasby dan orangtuanya selalu menolak penawaran dan pemberian apapun dari tetangganya. Bukan apa, hanya saja Hasby dan orangtuanya takut akan terus bergantung kepada mereka.
            Hasby tidak pernah mengeluhkan hidupnya pada siapapun. Meskipun miskin, keluarganya hidup rukun. Hasby memiliki tubuh yang sehat dan kuat walaupun kurus. Tubuhnya temasuk tinggi untuk remaja seusianya, memiliki warna kulit yang gelap dan kasar karena sering melakukan pekerjaan yang berat, juga rambut yang kusam dan kemerah-merahan akibat terlalu sering terkena paparan sinar matahari.
            Hasby anak yang cerdas dan berprestasi di sekolahnya, itulah salah satu alasannya sangat ingin kembali sekolah. Ia rindu namanya disebut paling awal ketika pembagian rapor tiap tahunnya, karena menjadi juara kelas. Ia ingin kembali memenangkan olimpiade-olimpiade yang diikutinya, menerima pandangan kagum dari teman-temannya, dan pandangan bangga dari guru-gurunya. Ia sangat ingin hal-hal itu bisa dirasakannya lagi. Tapi Hasby tidak boleh egois, ia tidak mau menambah beban orangtuanya.
            Ibunya hanyalah pembantu rumah tangga di rumah Pak RT di kampungnya. Sedangkan ayahnya sering terbaring sakit di atas tikar di rumahnya akibat terlalu lelah bekerja tanpa istirahat. Hasby lah satu-satunya yang bisa membantu orangtuanya karena merupakan anak tunggal.
            Seperti ayahnya, Hasby bekerja serabutan, apapun yang bisa dikerjakannya akan ia lakukan. Terkadang, jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya, ia akan membantu pekerjaan ibunya, atau menjaga ayahnya yang sakit di rumah.
            “Hasby, setelah ini tolong bawakan beberapa baskom kecil dan cetakan kue yang ada di dapur ke rumah Pak RT ya, ibu akan buat kue di sana, Pak RT akan mengadakan syukuran”, ucap ibunya sebelum berlalu ke kamar, membawakan makan untuk ayahnya yang sedang sakit.
            “Iya bu, kita pergi sekarang?”, tanya Hasby karena melihat ibunya belum bersiap-siap untuk pergi.
            “Kamu duluan saja, ibu harus menyiapkan alat dan bahan lainnya”, jawab ibunya sedikit berteriak dari dalam bilik kamar ayahnya.
            Hasby langsung pergi ke rumah Pak RT dengan membawa alat-alat yang diperintahkan ibunya. Hari itu masih sangat pagi, mungkin sekitar jam 6, Hasby tidak tau tepatnya karena tidak ada jam di rumahnya. Rumah Pak RT tidak jauh dari rumahnya, hanya berjarak 10 rumah saja.
            Begitu sampai, Hasby langsung menemui Pak RT. Hasby melihat Pak RT juga sedang sibuk mengatur persiapan syukuran yang akan diadakan besok.
            “Pak, ini saya taruh mana ya?”, tanya Hasby kebingungan karena melihat banyak orang sibuk dengan persiapan syukuran.
            “Oh, Hasby! Kamu masuk saja ke dalam, ada Bu RT di dapur”, jawab Pak RT yang sedikit menaikkan suaranya karena banyak suara di sana. Halaman rumah Pak RT memang luas, jadi akan didirikan tenda di situ.
            Hasby langsung pergi ke dalam rumah Pak RT untuk meletakkan barang-barang bawaannya, dan menemui Bu RT untuk memberitahu bahwa ibunya akan datang menyusul. Ternyata keadaan di dapur juga tidak kalah ramai dan bising dari keadaan di halaman. Banyak ibu-ibu tetangganya yang juga ikut membantu memasak di dapur, kebiasaan merumpi dari ibu-ibu itulah salah satu penyebab bisingnya dapur di rumah Pak RT. Namun, kebisingan itu dibuat lebih buruk lagi karena ada suara tangis anak Pak RT yang terus menggelayuti Bu RT.
            “Bu, alat-alat ini saya taruh mana ya?”, Hasby sedikit kebingungan mengajak Bu RT bicara, karena anaknya yang terus menangis.
            “Kamu taruh di bawah kompor saja. Ibu kamu mana?”, Bu RT sedikit kerepotan juga dengan anaknya itu, membuat Hasby tidak tega.
            “Ibu saya sebentar lagi sampai. Si Fahri kenapa, Bu?”, akhirnya Hasby tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
            “Si Fahri belum mengerjakan PR nya, kamu tahu sendiri kan Hasby, Fahri ini hanya tahu bermain saja, sedangkan PR itu harus dikumpulkan hari ini. Ya saya mana bisa mengerjakan PR nya, saya sudah tidak ingat lagi pelajaran-pelajaran sekolah”, jawab Bu RT sedikit jengkel dengan anaknya yang sudah duduk di kelas 3 SMP itu. Anak Pak RT memang terkenal manja, karena ia juga merupakan anak tunggal seperti Hasby. Hasby memutuskan untuk membantu Fahri mengerjakan PR nya.
            “Memangnya itu PR apa? Biar Bang Hasby bantu kerjakan ya?”, tanya Hasby kepada Fahri.
            “Ini PR matematika Bang. Bang Hasby memangnya bisa?”, tanya Fahri masih dengan sisa-sisa tangisannya, menatap Hasby tidak yakin.
            “Ayo kita kerjakan di ruang lain saja”, jawab Hasby dengan senyum maklum.
            Mereka berdua pergi meninggalkan dapur, bertepatan dengan ibu Hasby yang baru datang. Ibu Hasby bingung melihat Hasby masuk ke dalam rumah Pak RT, bukannya membantu Pak RT di luar. Bu RT lah yang akhirnya menjelaskan hal yang baru saja terjadi, membuat ibu Hasby mengerti.
            Keesokan harinya, ketika syukuran diadakan, Hasby dan orangtuanya datang ke rumah Pak RT untuk sekedar memberikan do’a dan selamat. Di sana, Hasby bertemu Pak RT, Bu RT, dan Fahri.
            “Hey, Bang Hasby, PR ku kemarin benar semua, dapat nilai 100! Nanti kalau ada PR lagi, Bang Hasby bantuin lagi ya”, ucapan Fahri yang berapi-api memotong niat Hasby untuk menyapa duluan.
            “Iya Hasby, kamu mau kan jadi guru Fahri di rumah? Kami tidak pernah sempat mengajarinya karena terlalu sibuk”, ucapan Pak RT yang tiba-tiba itu membuat Hasby terkejut.
            “Iya Pak, boleh. Dengan senang hati saya akan membantu”. Hasby begitu senang mendengar tawaran itu. Setidaknya, walaupun tidak bisa melanjutkan sekolah, ia masih bisa berbagi ilmunya kepada orang lain.
            Sejak hari itu, Hasby menjadi guru pribadi Fahri di rumah Pak RT. Awalnya Hasby hanya datang jika Fahri membutuhkan untuk membantunya mengerjakan PR. Namun karena Fahri akan menjalani UN, membuat Hasby setidaknya seminggu-tiga kali untuk mengajarinya. Pak RT juga ikut senang, karena Fahri menjadi semangat belajar. Fahri bilang, cara mengajar Hasby sangat seru dan mudah dipahami. Nilai-nilai Fahri di sekolahpun menjadi meningkat.
            Sampai ketika hari pengumuman kelulusan tiba, ternyata Fahri bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Membuat keluarga Pak RT dan keluarga Hasby ikut senang. Pak RT sangat berterimakasih kepada Hasby. Tapi, Hasby berkata bahwa itu adalah hasil usaha Fahri sendiri, Hasby hanya sedikit membantunya saja. Walaupun Hasby berkata begitu, Pak RT tetap ingin memberikan hadiah kepada Hasby. Hari itu, Pak RT sekeluarga datang ke rumah kecil Hasby.
            “Begini Pak, Bu, Hasby, saya sangat berterimakasih atas jasa Hasby yang telah membantu  anak saya sampai lulus. Saya berniat membalas jasa Hasby. Saya ingin membantu Hasby untuk kembali bersekolah, saya akan menanggung biayanya”, ucapan Pak RT membuat Hasby begitu terkejut, sampai hampir tidak bisa berkata-kata.
            “Terimakasih Pak RT, tapi itu terlalu berlebihan. Lagipula, Pak RT juga sudah membayar saya setiap saya datang untuk mengajar Fahri”, Hasby memang sangat menginginkan kembali sekolah, namun ia tahu biaya sekolah tidak murah.
            “Kami melihat potensimu Hasby, kamu sangat cerdas. Sayang sekali jika kamu harus berhenti sekolah, sedangkan kemampuanmu begitu tinggi. Kamu tidak bisa menolak, karena saya sudah mendaftarkan nama kamu untuk sekolah di SMA Mandiri di tahun ajaran baru nanti”, ucap Pak RT yang tidak bisa lagi dibantah membuat Hasby dan orangtuanya yang mendengar itu begitu senang. Sampai air mata tidak dapat lagi terbendung.
            “Terimakasih Pak RT, saya benar-benar berterimakasih. Saya memang sangat ingin melanjutkan sekolah. Sekali lagi terimakasih Pak”, ucap Hasby berulang-ulang. Orangtuanya memandang Hasby dengan tersenyum lega, akhirnya bisa melihat sinar semangat itu kembali muncul di wajah anaknya.
            “Segala persiapannya akan kami bantu. Tapi, kamu tetap harus mengajarkan anak saya ya, Hasby”, ucapan Pak RT yang diakhiri dengan tawa sedikit mencairkan suasana haru di rumah kecil itu.
            “Iya Pak, terimakasih”, Hasby tidak tau lagi apa yang harus diucapkannya selain terimakasih. Ini terasa seperti sebuah keajaiban besar baginya. Bagaikan mu’jizat yang tidak mungkin terjadi.
            Akhirnya Hasby bisa kembali bersekolah. Hasby sangat bersyukur akan hal itu. Walaupun ia harus menjadi adik kelas dari teman-teman SD dan SMP nya, itu tidak menjadi masalah untuk Hasby, yang terpenting ia bisa melanjutkan sekolah, menorehkan banyak prestasi baru, dan berusaha menggapai cita-citanya.
            Hasby sadar, hidup butuh perjuangan. Putus asa tidak menjadikan hidup ini lebih baik. Karena setiap kesusahan, akan ada kemudahan.





Itulah contoh cerpen yang bisa saya bagikan.
Oh iya, adakah yang penasaran kenapa saya pilih nama Hasby, nama yang agak keren untuk cerita yang agak menyedihkan ini? Kalau gak ada yang penasaran pun, akan saya kasih tau juga, hehe...
Jadi, nama Hasby ini diambil dari gabungan awal huruf dari nama saya, kakak saya, dan adik-adik saya:
Hamzah (5), Afkar (4), Susan (2), Bayu (3), Yasir (1)
Angka yang di dalem kurung itu urutan lahirnya kita, hehe..
Oke,, sekian dulu,, terimakasih atas kunjungannya..
Wassalamu'alaikum...

Jumat, 09 Maret 2018

Makalah Asas-asas Bimbingan dan Konseling

ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING
Makalah
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Bimbingan dan Konseling


Oleh Kelompok 5:
Achmad Ma’ruf Islamuddin            B53217058
Sausan Fajriyati                                B53217071
Arinal Haq Asy’ari                           B93217077
Maulida Rohmatasari                       B93217094
Dosen Pengampu:
Dita Kurnia Sari, M. Pd.

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim. Berkat Rahmat dan Hidayah Allah Swt, maka syukur alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING yang berjudul “Asas-Asas Bimbingan Konseling” ini dengan baik.
Mengkaji beberapa sumber buku yang mendukung materi ini, kami menemukan berbagai Asas bimbingan konseling serta pembahasannya. Hal tersebut akan kami ulas dalam susunan makalah ini.
Semoga apa yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan kemudahan bagi kita semua. Amin.


Surabaya, 10 Desember 2017


Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
…………………………………………………………….
i
DAFTAR ISI
…………………………………………………………….
ii
Bab I
Pendahuluan


A.    Latar Belakang……………………………………
1

B.     Rumusan Masalah………………………………...
1

C.     Tujuan……………………………………………..
1
Bab II
Pembahasan


A.    Asas Kerahasiaan...….……………………………..
2

B.     Asas Kesukarelaan...……………………………….
2

C.     Asas Keterbukaan...………………………………..
3

D.    Asas Kekinian……………………………………...
4

E.     Asas Kemandirian………...………………………..
4

F.      Asas Kegiatan……………………………………...
5

G.    Asas Kedinamisan………………………………….
6

H.    Asas Keterpaduan………………………………….
7

I.       Asas kenormatifan…………………………………
7

J.       Asas Keahlian……………………………………...
8

K.    Asas Alih Tangan…………………………………..
8

L.     Asas Tut Wuri Handayani………………………….
8

M.   Asas Kerjasama…………………………………….
9
Bab III
Penutup


A.    Kesimpulan………………………………………..
10

B.     Saran………………………………………………
10
Daftar Pustaka



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan profesional, maka harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu. Mengikuti kaidah-kaidah atau asas-asas tersebut, diharapkan efektifitas dan efisiensi proses bimbingan dan konseling dapat tercapai. Selain itu, agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam praktik pemberian layanan.[1] Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling, kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan.
Apabila dalam layanan bimbingan dan konseling dalam pelaksanaan pelayanannya menerapkan asas-asas atau kaidah-kaidah yang dimaksud, maka layanan tersebut akan mengarah kepada pencapaian tujuan, dan sebaliknya apabila asas-asas tersebut diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan kegiatan layanan bimbingan dan konseling justru berlawanan dengan tujuan layanan, bahkan akan merugikan orang-orang yang terlibat di dalam pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri.[2]

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja asas-asas bimbingan dan konseling?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui apa saja asas-asas dalam bimbingan dan konseling.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Asas Kerahasiaan
Masih banyak orang yang beranggapan bahwa mengalami masalah merupakan suatu aib yang harus ditutup-tutupi sehingga tidak seorang pun (selain diri sendiri) boleh tahu akan adanya masalah itu. Keadaan seperti ini sangat menghambat pemanfaatan layanan bimbingan dan konseling oleh masyarakat. Jika bimbingan dan konseling ini dimanfaatkan secara penuh, masyarakat perlu mengetahui bahwa layanan bimbingan dan konseling harus menerapkan asas-asas kerahasiaan secara penuh.[3]
Segala sesuatu yang dibicarakan konseli kepada konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha bimbingan dan konseling. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan, maka penyelenggara atau pemberi bimbingan akan mendapat kepercayaan dari semua pihak, terutama penerima bimbingan konseli, sehingga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang asas kerahasiaan dengan baik, maka hilanglah kepercayaan konseli, sehingga akibatnya pelayanan bimbingan tidak dapat tempat di hati konseli, mereka takut untuk meminta bantuan, sebab khawatir masalah dan diri mereka akan menjadi bahan gunjingan.[4]

B.     Asas Kesukarelaan
Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar kesukarelaan, baik dari pihak pembimbing (konselor) maupun dari pihak yang dibimbing (konseli). Konseli diharapkan secara sukarela, tanpa terpaksa, dan tanpa ragu-ragu menyampaikan masalah yang dihadapinya, serta mengungkapkan semua fakta, data, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan masalah yang dihadapinya kepada konselor. Sebaliknya, konselor atau pembimbing dalam memberikan bimbingan juga hendaknya jangan karena terpaksa. Dengan perkataan lain, konselor harus memberikan pelayanan bimbingan dan konseling secara ikhlas.[5]
Berdasarkan asas ini, bukan berarti konselor tidak boleh menerima jasa dari pelayanan bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan profesi, oleh sebab itu, pembimbing atau konselor tidak dilarang menerima gaji atau upah, tetapi hendaknya gaji atau upah tidak menjadi tujuan. Konselor tidak memberikan pelayanan bimbingan dan konseling karena terpaksa. Asas ini sangat relevan dengan ajaran Islam berkenaan dengan ikhlas. Konseli harus ikhlas (tidak terpaksa) untuk mengikuti bimbingan dan konseling, dan konselor pun harus ikhlas memberikan bimbingan dan konseling.[6]
Bagi konseli yang datang dipanggil oleh konselor, hal ini tidak melanggar asas kesukarelaan, namun dalam hal ini konselor berkewajiban mengembangkan sikap sukarela pada diri konseli, sehingga konseli dapat menghilangkan rasa keterpaksaannya saat menghadap kepada konselor.[7]

C.    Asas Keterbukaan
Bimbingan atau konseling yang efisien hanya berlangsung dalam suasana keterbukaan. Baik konseli maupun konselor harus bersifat terbuka. Melalui keterbukaan ini penelaahan masalah serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan konseli menjadi mungkin. Perlu diperhatikan bahwa keterbukaan hanya akan terjadi bila konseli tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan yang semestinya diterapkan oleh konselor. Usaha untuk keterbukaan konseli, konselor harus terus-menerus membina suasana hubungan konseling sedemikian rupa, sehingga konseli yakin bahwa konselor juga bersikap terbuka, dan yakin bahwa asas kerahasiaan memang terselenggarakan. Kesukarelaan konseli tentu saja menjadi dasar bagi keterbukaannya.[8]
Keterbukaan konselor dengan konselinya dan konseli dengan konselornya dapat menciptakan hubungan yang harmonis dalam konseling. Kesukarelaan konseli dan kesukarelaan konselor dapat mendorong adanya keterbukaan dalam proses konseling, dengan demikian kemungkinan untuk berhasil dalam konseling sangat terbuka. Keberhasilan konseling salah satunya ditentukan oleh keterbukaan, khususnya konseli kepada konselor dan juga keterbukaan konselor.[9]
Asas ini tidak kontradiktif dengan asas kerahasiaan, Karena keterbukaan yang dimaksud menyangkut kesediaan menerima saran-saran dari luar dan kesediaan membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Konselor pun harus terbuka dengan bersedia menjawab berbagai pertanyaan dari konseli dan mengungkapkan diri konselor sendiri apabila hal tersebut dikehendaki oleh konseli. Tegasnya, dalam proses bimbingan dan konseling masing-masing pihak harus terbuka (transparan) terhadap pihak lainnya.[10]

D.    Asas Kekinian
Masalah konseli yang dicari solusinya dalam konseling adalah masalah-masalah konseli saat sekarang, bukan masalah-masalah masa lampau dan/atau masalah-masalah yang akan datang (masalah yang kemungkinan terjadi). Masalah masa lampau maupun kemungkinan masalah yang akan datang dapat dianalisis untuk mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh konseli saat sekarang. Karena bisa terjadi apa yang dihadapi oleh konseli saat sekarang merupakan akibat dari masalah masa lampau dan masalah yang akan datang.[11]
Asas kekinian juga mengandung makna bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan apabila konseli meminta bantuan.[12] Konselor harus mendahulukan kepentingan konseli daripada yang lain-lain. Jika dia benar-benar memiliki alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini, maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk kepentingan konseli.[13]

E.     Asas Kemandirian
Kemandirian merupakan tujuan dari usaha layanan bimbingan dan konseling. Ketika memberikan layanan, para konselor hendaklah selalu berusaha menghidupkan kemandirian pada diri konseli, jangan hendaknya para konseli itu menjadi tergantung pada orang lain, khususnya kepada konselor.[14] Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu:
1.      Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya,
2.      Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis,
3.      Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri,
4.      Mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu,
5.      Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.[15]
Kemandirian dengan ciri-ciri umum di atas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan konseli dalam kehidupannya sehari-hari. Kemandirian sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling, dan hal itu disadari baik oleh konselor maupun oleh konseli.[16]
Penerapan asas kemandirian dalam proses konseling yang harus disadari oleh konselor adalah menghindari memberikan saran, nasihat kepada konseli dalam menentukan apa yang akan dilakukan. Konselor dalam konseling akan membelajarkan konseli terampil membuat suatu keputusan, karena itu dalam proses konseling, pengambil keputusan ada pada konseli dengan segala resikonya. Dengan demikian, konseli terlatih untuk membuat suatu keputusan dan berani bertanggungjawab akan keputusannya.[17]
F.     Asas Kegiatan
Pelayanan bimbingan dan konseling tidak akan memberikan hasil yang berarti apabila konseli tidak melakukan sendiri kegiatan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Hasil usaha yang menjadi tujuan bimbingan dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya, melainkan harus dicapai dengan kerja giat dari konseli sendiri. Konselor harus dapat membangkitkan semangat konseli sehingga ia mampu dan mau melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam proses konseling.[18]

G.    Asas Kedinamisan
Usaha bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan pada individu yang dibimbing, yaitu perubahan perilaku ke arah yang yang lebih baik. Perubahan yang terjadi tidak sekedar mengulang-ulang hal-hal yang lama yang bersifat monoton, melainkan perubahan yang selalu menuju ke suatu pembaruan atau sesuatu yang lebih maju dan dinamis sesuai dengan arah perkembangan konseli yang dikehendaki.[19]

H.    Asas Keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha memadukan berbagai aspek kepribadian konseli. Sebagaimana diketahui individu memiliki berbagai aspek kepribadian yang kalau keadaannya tidak seimbang, serasi, dan terpadu, justru akan menimbulkan masalah. Di samping keterpaduan pada diri konseli, harus diperhatikan juga keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan. Jangan hendaknya aspek layanan yang satu tidak serasi dengan aspek layanan yang lain.[20]
Demi terselenggaranya asas keterpaduan, konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan konseli dan aspek-aspek lingkungan konseli. Kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.[21]
Asas keterpaduan juga bermakna bahwa dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dapat dipadukan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Hal ini dipahami bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak harus dilaksanakan secara terpisah dengan kegiatan lainnya, namun kegiatan layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan yang lain.[22]

I.       Asas Kenormatifan
Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, baik ditinjau dari norma agama, norma adat, norma hukum/negara, norma ilmu, maupun kebiasaan sehari-hari. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Seluruh isi layanan harus sesuai dengan norma-norma yang ada. Demikian pula prosedur, teknik dan peralatan yang dipakai tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan.[23]

J.      Asas Keahlian
Usaha bimbingan dan konseling perlu dilakukan asas keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur, teknik, dan alat instrumentasi bimbingan dan konseling yang memadai. Maka, para konselor perlu mendapat latihan secukupnya, sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan usaha pemberian layanan. Pelayanan bimbingan dan konseling adalah pelayanan profesional yang diselenggarakan oleh tenaga-tenaga ahli yang khusus dididik untuk pekerjaan itu.[24]
Asas keahlian selain mengacu kepada kualifikasi konselor, juga kepada pengalaman teori dan praktek bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, seorang konselor harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseling secara baik. Hal ini juga mengandung makna bahwa berdasarkan asas keahlian ini, layanan konseling tidak bisa dilakukan oleh semua orang, kecuali orang yang benar-benar memiliki keahlian dalam konseling.[25]

K.    Asas Alih Tangan
Apabila konselor telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk memecahkan masalah konseli, tetapi belum berhasil, maka konselor yang bersangkutan harus memindahkan tanggung jawab pemberian bimbingan dan konseling kepada konselor lain atau kepada orang lain yang lebih mengetahui. Asas ini juga bermakna bahwa konselor dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling jangan melebihi batas kewenangannya.[26]

L.     Asas Tut Wuri Handayani
Asas ini merujuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor dan konseli. Terlebih di lingkungan sekolah, asas ini makin dirasakan keperluannya, karena seorang individu ada kecenderungan tidak suka selalu dinasehati, dilarang, dan diperintah. Ada hal-hal tertentu individu dibiarkan untuk berbuat atau melakukan apa yang dipikirkan dan diinginkan. Layanan bimbingan dan konseling cukup memonitoring kepada individu tersebut, selama individu tidak melakukan tindakan yang menyimpang, maka konselor akan tetap membiarkan, namun dikala individu tampak melakukan penyimpangan, maka konselor akan meluruskan atau mengembalikan pada perilaku yang baik.[27]
Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan adanya pada waktu konseli mengalami masalah. Bimbingan dan konseling hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya sebelum dan sesudah konseli menjalani layanan bimbingan dan konseling secara langsung. Asas ini juga memberikan makna bahwa untuk bisa menjadi pemecah masalah yang efektif dan bisa dicontoh oleh konseli, konselor harus memulai dari diri sendiri.[28]

M.   Asas Kerjasama
Dapat terselenggaranya layanan bimbingan dan konseling secara efektif apabila adanya kerjasama yang baik dari semua pihak yang terlibat, tanpa adanya kerjasama maka layanan bimbingan dan konseling tidak akan mungkin terselenggara dengan baik. Tanda terjalinnya kerjasama yang baik, apabila masing-masing pihak yang terlibat (1) memahami akan tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan pelayanan tersebut, (2) semua pihak yang terlibat sadar akan peran masing-masing dalam proses layanan bimbingan dan konseling.  Apabila masing-masing pihak terlibat dalam proses layanan bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang berbeda dan tidak memahami perannya, maka dapat terjadi saling bertentangan dan berjalan masing-masing.[29]







Bab III
Penutup
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan profesional, maka harus dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas bimbingan dan konseling.
Asas-asas bimbingan dan konseling itu terdiri atas:


1.      Asas kerahasiaan
2.      Asas kesukarelaan
3.      Asas keterbukaan             
4.      Asas kekinian
5.      Asas kemandirian
6.      Asas kegiatan
7.      Asas kedinamisan
8.      Asas keterpaduan
9.      Asas kenormatifan
10.  Asas keahlian
11.  Asas alih tangan
12.  Asas Tut Wuri Handayani
13.  Asas kerjasama


Asas-asas tersebut adalah ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan, baik oleh konselor maupun konseli, supaya pelayanan bimbingan dan konseling dapat terlaksana dengan baik.

B.     Saran
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan untuk penyempurnaan makalah kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi penulis dan pembaca.









Daftar Pustaka
        
         Giyono. 2015. Bimbingan Konseling. Yogyakarta: Media Akademi.

         Prayitno dan Erman Amti. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:    Rineka Cipta.

         Sukardi, Dewa Ketut. 2012. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling     di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

         Tohirin. 2013. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi).       Jakarta: RajaGrafindo Persada.




[1] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 77.
[2] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 101.
[3] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 31.
[4] Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Rineka Cipta, 1999), 115.
[5] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 81.
[6] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 81.
[7] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 102.
[8] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 32.
[9] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 103.
[10] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 82.
[11] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 104.
[12] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 82.
[13] Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Rineka Cipta, 1999), 117.
[14] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 34.
[15] Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Rineka Cipta, 1999), 117.
[16] Ibid.
[17] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 104.
[18] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 83.
[19] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 84.
[20] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002), 34.
[21] Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Rineka Cipta, 1999), 118.
[22] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 106.
[23] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 85.
[24] Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Rineka Cipta, 1999), 119.
[25] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 108.
[26] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 85.
[27] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 110.
[28] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2007), 86.
[29] Giyono, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta, Media Akademi, 2015), 110.